Bentuk-Bentuk Interferensi

Bentuk-Bentuk Interferensi[1]. Weinreich (1968:7) membagi interferensi berdasarkan bentuknya, yaitu:

  1. interferensi bidang bunyi
  2. interferensi bidang gramatika
  3. interferensi bidang leksikal atau kosakata

Suwito (1983:55) mengemukakan bahwa interferensi dapat terjadi dalam semua komponen kebahasaan, yaitu fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, leksikal (kosakata).

Selain itu, Poedjosoedarmo (1978:36) membagi interferensi berdasarkan segi sifatnya, menjadi 3 macam yaitu: interferensi aktif, interferensi pasif, dan interferensi variasional. Interferensi aktif adalah kebiasaan dalam berbahasa daerah dipindahkan ke dalam bahasa Indonesia, interferensi pasif adalah penggunaan beberapa bentuk bahasa dan pola bahasa daerah, sedangkan interferensi variasional adalah kebiasaan menggunakan ragam tertentu ke dalam bahasa Indonesia.

Pada penelitian ini hanya dibahas mengenai intereferensi morfologi dan sintaksis bahasa Jawa dalam pemakaian bahasa Indonesia pada kolom “piye ya? “harian Suara merdeka.

1.   Interferensi Morfologi

Morfologi adalah cabang tata bahasa yang menelaah struktur atau bentuk kata, utamanya melalui penggunaan morfem (Crystal dalam Ba’dulu, 2004:1). Sedangkan morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang mempunyai makna (Chaer, 1994:146). Contoh kata [berhak], terdiri dari dua morfem [ber] dan [hak].

Proses morfologi dalam bahasa Indonesia seperti yang dikemukakan oleh Ramlan (1985:63) yaitu berupa afiksasi, reduplikasi dan pemajemukan. Hal tersebut sama dengan proses morfologi bahasa Jawa, sehingga tidak menutup kemungkinan terjadi interferensi morfologi antara bahasa Jawa dan bahasa Indonesia.

Menurut Suwito (1983:55) interferensi morfologi dapat terjadi apabila dalam pembentukan kata suatu bahasa menyerap afiks-afiks bahasa lain. Afiks suatu bahasa digunakan untuk membentuk kata dalam bahasa lain, Sedangkan afiks adalah morfem imbuhan yang berupa awalan, akhiran, sisipan, serta kombinasi afiks. Dengan kata lain afiks bisa memempati posisi depan, belakang, tengah bahkan di antara morfem dasar (Ramlan, 1985:63). Dalam bahasa sering terjadi penyerapan afiks ke-, ke-an dari bahasa Jawa, misalnya kata ketabrak, kelanggar dsb. Bentukan kata tersebut berasal dari bentuk dasar bahasa Indonesia + afiks bahasa daerah. Bentukan dengan afiks-afiks seperti ini sebenarnya tidak perlu, sebab dalam bahasa sudah ada padanannya berupa afiks ter-.Persentuhan unsur kedua bahasa itu menyebabkan perubahan sistem bahasa, yaitu perubahan pada struktur kata bahasa yang bersangkutan.

Selain berupa penambahan afiks, gejala-gejala interferensi morfologi dapat pula berupa reduplikasi, dan pemajemukan. Menurut Ramlan (1985:63) reduplikasi adalah pengulangan suatu satuan gramatika, baik seluruhnya maupun sebagian. Lihat pembahasan pada bab III.

2.   Interferensi Sintaksis

Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata dalam tuturan (Veerhar, 1990: 159). Sintaksis merupakan tata kalimat.

Interferensi sintaksis terjadi apabila dalam struktur kalimat satu terserap struktur kalimat bahasa lain (Suwito, 1983:56). Interferensi sintaksis dapat terlihat pada penggunaan serpihan kata, frasa dan klausa dalam kalimat (Chaer dan Leonie, 1995:162). Bentuk interferensi bahasa Jawa dalam bahasa Indonesia, misalnya: Rumahnya ayahnya Ali yang besar sendiri di kampung itu

Dalam kalimat tersebut terdapat unsur kalimat dari bahasa Jawa. Kalimat itu dalam bahasa Jawa adalah Omahe bapake Ali sing gedhe dhewe ing kampong iku.

 Padanan struktur kalimat tersebut dalam bahasa Indonesia adalah Rumah ayah Ali yang paling besar di kampung itu. Adanya penyimpangan unsur struktur kalimat di dalam diri penutur terjadi karena kontak antara bahasa yang sedang diucapkannya (bahasa Indonesia) dengan bahasa daerah (bahasa Jawa).

Interferensi struktur termasuk peristiwa yang jarang terjadi. Tetapi karena pola struktur merupakan ciri utama kemandirian sesuatu bahasa, maka penyimpangan dalam level ini biasanya dianggap sesuatu yang mendasar sehingga perlu dihindarkan.

 

[1]Avid Setiyowati, 2008. Interferensi Morfologi Dan Sintaksis  Bahasa Jawa Dalam Bahasa Indonesia  Pada Kolom “Piye Ya?” Harian Suara Merdeka. Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang

sutisna