Pendekatan Pragmatik

Pendekatan Pragmatik[1]

Pragmatik mulai berkembang dalam bidang kajian linguistik pada tahun 1970-an. Kehadirannya dilatarbelakangi oleh adanya ketidakpuasan terhadap kaum strukturalis yang hanya mengkaji bahasa dari segi bentuk, tanpa mempertimbangkan bahwa satuan-satuan kebahasaan itu sebenarnya hadir dalam konteks yang bersifat lingual maupun extralingual. Diabaikannya konteks tuturan menyebabkan kaum strukturalis gagal menjelaskan berbagai masalah kebahasaan, di antaranya adalah masalah kalimat anomali.

Perkembangan lebih lanjut tentang pragmatik memunculkan berbagai batasan. Leech  dalam terjemahan Oka (1993:32) mengemukakan bahwa, “Pragmatik merupakan studi tentang makna dalam hubungannya dengan situasi-situasi ujar atau speech situations.” Lubis (1991:4) menambahkan bahwa bahasa merupakan gejala sosial dan pemakaiannya jelas banyak ditentukan oleh faktor-faktor nonlinguistik. Faktor linguistik saja seperti kata-kata, kalimat-kalimat saja tidak cukup untuk melancarkan komunikasi.

Menurut Levinson (dalam Tarigan, 1987:33), pragmatik merupakan telaah mengenai relasi antara bahasa dengan konteks yang merupakan dasar bagi suatu catatan atau laporan pemahaman bahasa. Dengan kata lain, pragmatik adalah telaah mengenai kemampuan pemakai bahasa menghubungkan serta menyerasikan kalimat-kalimat dan konteks-konteks secara tepat. Pendapat lain dikemukakan oleh Wijana (1996:14) yang mengatakan bahwa pragmatik menganalisis tuturan, baik tuturan panjang, satu kata atau injeksi. Ia juga mengatakan bahwa pragmatik sebagai cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana suatu kebahasaan itu digunakan dalam komunikasi.

Rustono (1999:5) mengatakan bahwa pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji hubungan timbal balik antara fungsi dan bentuk tuturan. Gunarwan dalam Rustono (1999:4) menambahkan bahwa pragmatik adalah bidang linguistik yang mengkaji hubungan (timbal balik) fungsi ujaran dan bentuk (struktur) kalimat yang  mengungkapkan ujaran.

Beberapa pendapat di atas walaupun dengan pernyataan yang berbeda tetapi pada dasarnya menunjukkan kesamaan pandangan, sebab kajian pragmatik mengacu pada penggunaan bahasa dalam kaitannya dengan konteks. Jadi dapat disimpulkan, pragmatik adalah ilmu yang menelaah bagaimana keberadaan konteks mempengaruhi dalam menafsirkan kalimat. Di sinilah letak perbedaan pragmatik dengan semantik, sebab telaah semantik bersifat bebas konteks. Dengan kata lain, persoalan yang dikaji oleh semantik adalah makna kata-kata yang dituturkan, dan bukan maksud tuturan penutur. Analisis terhadap humor Nasruddin sangat tepat bila menggunakan pendekatan pragmatik. Untuk memahami bahwa humor-humor Nasruddin tidak semata-mata untuk melucu tetapi juga mengandung maksud dan tujuan, diperlukan pemahaman terhadap konteks yang melatarbelakangi humor tersebut. Pemahaman terhadap konteks merupakan salah satu ciri pendekatan pragmatik.

Pendekatan pragmatik dipergunakan untuk memahami strategi yang digunakan  Nasruddin untuk menciptakan efek lucu dalam humornya. Pemanfaatan ataupun penyimpangan terhadap maksim-maksim percakapan banyak dimanfaatkan Nasruddin untuk menciptakan kelucuan. Pembicaraan mengenai strategi tutur dan maksim-maksim adalah bahasan dalam ilmu pragmatik. Dowty (melalui Tarigan, 1990:33) berpendapat bahwa pragmatik merupakan telaah mengenai ujaran langsung dan tak langsung, presuposisi, implikatur, konvensional dan konversasional sehingga pendekatan pragmatik dipandang paling ideal dalam menganalisis humor-humor Nasruddin dalam skripsi ini.

Aspek-aspek Pragmatik

Humor seperti dijelaskan sebelumnya, sangat berkait dengan konteks situasi tutur yang mendukungnya, oleh karena itu, dalam mengkajinya perlu dipertimbangkan beberapa aspek situasi tutur seperti di bawah ini.

Penutur dan lawan tutur

     Konsep penutur  dan lawan tutur ini juga mencakup penulis dan pembaca bila tuturan yang bersangkutan dikomunikasikan dalam bentuk tulisan. Aspek-aspek tersebut adalah usia, latar belakang sosial ekonomi, jenis kelamin, tingkat keakraban, dan sebagainya.

Konteks tuturan

     Konteks di sini meliputi semua latar belakang pengetahuan yang diperkirakan dimiliki dan disetujui bersama oleh penutur dan lawan tutur, serta yang menunjang interpretasi lawan tutur terhadap apa yang dimaksud penutur dengan suatu ucapan tertentu.

Tujuan tuturan

     Setiap situasi tuturan atau ucapan tentu mengandung maksud dan tujuan tertentu pula. Kedua belah pihak yaitu penutur dan lawan tutur terlibat dalam suatu kegiatan yang berorientasi pada tujuan tertentu.

Tuturan sebagai bentuk tindakan dan kegiatan tindak tutur

Dalam pragmatik ucapan dianggap sebagai suatu bentuk kegiatan yaitu kegiatan tindak ujar. Pragmatik menggarap tindak-tindak verbal atau performansi-performansi yang berlangsung di dalam situasi-situasi khusus dalam waktu tertentu.

Tuturan sebagai produk tindak verbal

Dalam pragmatik tuturan mengacu kepada produk suatu tindak verbal, dan bukan hanya pada tindak verbalnya itu sendiri. Jadi yang dikaji oleh pragmatik bukan hanya tindak ilokusi, tetapi juga makna atau kekuatan ilokusinya.

                                                              (Leech, 1993:19)

Pertimbangan aspek-aspek situasi tutur seperti di atas dapat menjelaskan keberkaitan antara konteks tuturan dengan maksud yang ingin dikomunikasikan.

2.   Teori Tindak Tutur

Tindak tutur dilakukan setiap orang sejak bangun pagi sampai tidur kembali. Ribuan kalimat telah diucapkan selama 16 atau 18 jam setiap hari. Tidak pernah dipikirkan bagaimana terjadinya kalimat-kalimat yang diucapkan, kenapa kalimat tertentu diucapkan, bagaimana kalimat itu dapat diterima lawan tutur dan bagaimana lawan tutur mengolah kalimat-kalimat itu kemudian memberikan jawaban terhadap rangsangan yang diberikan, sehingga dengan demikian dapat berdialog berjam-jam lamanya. Searle mengemukakan bahwa secara pragmatis setidak-tidaknya ada tiga jenis tindakan yang dapat diwujudkan oleh seorang penutur, yaitu tindak lokusi, tindak ilokusi, dan tindak perlokusi (Wijana, 1996:17).

1)   Tindak Lokusi (locutionary act)

Tindak lokusi adalah tindak tutur untuk menyatakan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai The act of saying something. Dalam tindak lokusi, tuturan dilakukan hanya untuk menyatakan sesuatu tanpa ada tendensi atau tujuan yang lain, apalagi untuk mempengaruhi lawan tuturnya. Tindak lokusi relatif mudah untuk diindentifikasikan dalam tuturan karena pengidentifikasiannya cenderung dapat dilakukan tanpa menyertakan konteks tuturan yang tercakup dalam situasi tutur (Parker melalui Wijana, 1996:18). Dalam kajian pragmatik, tindak lokusi ini tidak begitu berperan untuk memahami suatu tuturan.

2)   Tindak Ilokusi (illocutionary act)

Tindak ilokusi ialah tindak tutur yang tidak hanya berfungsi untuk menginformasikan sesuatu namun juga untuk melakukan sesuatu. Tuturan ini disebut sebagai  The act of doing something. Contoh, kalimat ‘Saya tidak dapat datang’ bila diucapkan kepada teman yang baru saja merayakan pesta pernikahannya tidak saja berfungsi untuk menyatakan bahwa dia tidak dapat menghadiri pesta tersebut, tetapi juga berfungsi untuk melakukan sesuatu untuk meminta maaf. Tindak ilokusi sangat sukar dikenali bila tidak memperhatikan terlebih dahulu siapa penutur dan lawan tutur, kapan dan di mana tindak tutur itu terjadi, dan sebagainya.

Searle dalam Leech (1993:164-166) membagi tindak ilokusi ini menjadi lima yaitu asertif, direktif, komisif, ekspresif, dan deklarasi.

  1. Tindak asertif merupakan tindak yang menjelaskan apa dan bagaimana sesuatu itu adanya, artinya tindak tutur ini mengikat penuturnya pada kebenaran atas apa yang dituturkannya (seperti menyatakan, mengusulkan, melaporkan)
  2. Tindak komisif ialah tindak tutur yang berfungsi mendorong penutur melakukan sesuatu. Ilokusi ini berfungsi menyenangkan dan kurang bersifat kompetitif karena tidak mengacu pada kepentingan penutur tetapi pada kepentingan lawan tuturnya (seperti menjanjikan, menawarkan, dan sebagainya)
  3. Tindak direktif yaitu tindak tutur yang berfungsi mendorong lawan tutur melakukan sesuatu. Pada dasarnya, ilokusi ini bisa memerintah lawan tutur melakukan sesuatu tindakan baik verbal maupun nonverbal (seperti memohon, menuntut, memesan, menasihati)
  4. Tindak ekspresif merupakan tindak tutur yang menyangkut perasaan dan sikap. Tindak tutur ini berfungsi untuk mengekspresikan dan mengungkapkan sikap psikologis penutur terhadap lawan tutur (seperti mengucapkan selamat, memberi maaf, mengecam)
  5. Tindak deklaratif ialah tindak tutur yang berfungsi untuk memantapkan atau membenarkan sesuatu tindak tutur yang lain atau tindak tutur sebelumnya. Dengan kata lain, tindak deklaratif ini dilakukan penutur dengan maksud untuk menciptakan hal, status, keadaan yang baru (seperti memutuskan, melarang, mengijinkan).

Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pemahaman terhadap tindak ilokusi merupakan bagian sentral untuk memahami tindak tutur.

3)   Tindak Perlokusi (perlocutionary act)

Tindak perlokusi yaitu hasil atau efek yang ditimbulkan oleh ungkapan itu pada pendengar sesuai dengan situasi dan kondisi pengucapan kalimat (Nababan dalam Lubis, 1999:9). Tuturan ini  disebut sebagai The act of affecting someone. Sebuah tuturan yang diutarakan oleh seseorang seringkali mempunyai daya pengaruh (perlocutionary force) atau efek bagi yang mendengarnya. Efek atau daya pengaruh ini dapat secara sengaja atau tidak sengaja dikreasikan oleh penuturnya. Tindak tutur yang pengutaraannya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur disebut dengan perlokusi. Tindak perlokusi ini biasa ditemui pada wacana iklan. Sebab wacana iklan meskipun secara sepintas merupakan berita tetapi bila diamati lebih jauh daya ilokusi dan perlokusinya sangat besar.

3.   Maksim-maksim Percakapan Grice

Salah satu kaidah berbahasa adalah seorang penutur harus selalu berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks, jelas, dan mudah dipahami sehingga lawan tuturnya dapat memahami maksud tuturan. Demikian pula dengan lawan tutur, ia harus memberikan jawaban atau respons dengan apa yang dituturkan oleh penutur. Bila keduanya tidak ada saling pengertian maka tidak akan terjadi komunikasi yang baik. Oleh sebab itu diperlukan semacam kerja sama antara penutur dengan lawan tutur agar proses komunikasi itu berjalan secara lancar.

Grice mengemukakan bahwa dalam rangka melaksanakan prinsip kerja sama itu, setiap penutur harus mematuhi empat maksim percakapan (conversational maxim), yaitu maksim kuantitas (maxim of quantity), maksim kualitas (maxim of quality), maksim relevansi (maxim of relevance) dan maksim pelaksanaan (maxim of manner) (Wijana 1996:46).

 1)   Maksim Kuantitas

Maksim ini mengharapkan agar peserta tutur memberikan respons atau jawaban secukupnya atau sebanyak yang dibutuhkan lawan tutur saja. Contohnya ketika seseorang ditanya siapa namanya, maka dia tidak perlu memberikan jawaban selain informasi tentang namanya, seperti alamat, status, dan lain sebagainya.

2)   Maksim Kualitas

Maksim percakapan ini mengharuskan setiap partisipan komunikasi mengatakan hal yang sebenarnya. Artinya jawaban atau respons hendaknya didasarkan pada bukti yang memadai. Contohnya ketika seorang murid ditanya gurunya apa ibukota Jepang, maka dia kalau memang tahu harus menjawab Tokyo, karena hal tersebut tidak terbantahkan lagi. Namun bisa saja terjadi kesengajaan, seorang penutur melanggar maksim kualitas ini. Hal ini tentu mempunyai maksud seperti menimbulkan efek lucu (Wijana, 1996:49).

3)   Maksim Relevansi

Maksim relevansi mewajibkan setiap peserta tutur memberikan kontribusi relevan dengan pokok pembicaraan. Maksim relevansi menekankan keterkaitan isi tuturan antar peserta percakapan. Setiap peserta percakapan saling memberikan kontribusi yang relevan dengan topik pembicaraan sehingga tujuan percakapan dapat tercapai secara efektif. Namun terkadang secara tersurat (eksplisit) respons yang diberikan tidak terlihat relevansinya dengan pokok pembicaraan, karena sudah ada latar belakang pengetahuan (background knowledge) yang sama antara penutur dan lawan tutur maka komunikasi masih tetap bisa berjalan. Dengan kata lain, yang tersurat (eksplisit) nampak tidak relevan namun, yang tersirat (implisit) sebenarnya relevan.

4)   Maksim Pelaksanaan atau Maksim Cara

Maksim pelaksanaan mengharuskan setiap peserta percakapan berbicara secara langsung, tidak kabur, tidak taksa, secara runtut dan tidak berlebih-lebihan. Bila hal ini dilanggar, biasanya penutur mempunyai tujuan tertentu, misalnya mengelabuhi, menimbulkan efek lucu.

4.   Presuposisi, Implikatur, dan Entailment

Lubis (1991:59) mengatakan bahwa yang disebut presuposisi (praanggapan) adalah hakikat rujukan yang dirujuk oleh kata atau frasa atau kalimat. Maksudnya kalau ada suatu pernyataan, maka selalu ada presuposisi bahwa nama-nama (atau kata benda) yang dipakai baik secara sederhana maupun majemuk mempunyai suatu rujukan.

Jika ada orang mengatakan bahwa “Film Ayat-ayat Cinta adalah sebuah film yang baik” mempresuposisikan bahwa ada film yang berjudul ‘Ayat-ayat Cinta’, bila memang ada maka orang baru bisa menilai benar atau salahnya pernyataan tersebut.

Rustono (1999:103) mengemukakan pengertian praanggapan yaitu pengetahuan bersama antara penutur dan mitra tutur yang tidak dituturkan dan merupakan prasyarat yang memungkinkan suatu tuturan benar atau tidak benar. Stalnaker dalam Rustono (1999:98-99) mengemukakan bahwa praangapan adalah apa yang digunakan oleh penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan. Yang dimaksud dengan dasar bersama itu adalah sebuah paraangapan hendaknya dipahami bersama oleh penutur dan lawan tutur sebagai pelaku percakapan dalam melakukan tindak tutur.

Grice dalam Wijana (1996:37) pada artikelnya yang berjudul Logic and Coversation menyatakan bahwa sebuah tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan yang bersangkutan. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature). Karena implikatur bukan merupakan bagian proposisi yang mengimplikasikannya, hubungan kedua proposisi itu bukan merupakan hubungan konsekuensi mutlak (necessary consequence). Karena hubungannya yang tidak mutlak itu maka implikatur adalah proses interpretasi yang ditentukan oleh situasi dan konteks (Lubis, 1991:68). Sedangkan entailment adalah sebuah hubungan yang bersifat mutlak. Contohnya pada:

(a)  ‘Pak Hadi seorang duda’

(b)  ‘Pak Hadi pernah punya istri’

Kalimat (a) dan (b) tidak akan pernah bisa diubah bentuknya menjadi :

(c)  Meskipun Pak Hadi seorang duda, tetapi ia belum pernah mempunyai istri.

Bila hal tersebut dipaksakan maka kalimat tersebut menjadi tidak berterima.

Rustono (1999:101) mengemukakan istilah perikutan merupakan terjemahan dari istilah dalam bahasa Inggris : entailment. Gunarwan dalam Rustono (1999:102) menyatakan bahwa perikutan merupakan “implikasi” logis sebuah tuturan. Artinya, perikutan ini tidak lain merupakan bagian atau konsekuensi mutlak dari sebuah tuturan.

Entailment ini membentuk sebuah komposisi kalimat yang pada dasarnya harus memiliki pertalian dan hubungan yang bersifat mutlak. Sebuah tuturan yang mengandung entailment harus memiliki bagian atau konsekuensi yang mutlak (necessary consequence) antarkalimat yang membentuk sebuah tuturan.

Jadi, penulis dapat menyimpulkan bahwa entailment yang muncul dalam suatu tuturan itu merupakan suatu tuturan yang memiliki keterlibatan yang mutlak dan berupa implikasi yang logis dari sebuah tuturan yang diujarkan itu.



[1] Hidayati, 2009. Analisis Pragmatik Humor Nasruddin Hoja, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang


Download:

[hidepost]Pendekatan Pragmatik[/hidepost]

 

Comments