Sutisna.Com

Artikel – Kursus – Download

Deskripsi Pewahyuan Muhammad Saw

Published on Dec 23 2012 // Keislaman

Deskripsi Pewahyuan Muhammad Saw [1]. Penting untuk digambarkan, bagaimana sebenarnya kronologi pewahyuan itu sebenarnya. Beberapa pakar bahkan memandang, bahwa pendiskripsian ini merupakan telaah kasus dari akarnya (Bahts ‘an al-Mashadir) Maksud dari deskripsi tentang pewahyuan Muhammad saw ini, tidak lain adalah pembacaan kembali sirah (sejarah hidup) beliau secara analitis. Disiplin ilmu inilah yang dikenal dengan istilah “studi sirah analitik” (analyic biography of the prophet). Studi ini biasanya dilakukan dengan mengumpulkan riwayat-riwayat hadis maupun Atsar (ucapan Sahabat Nabi) yang bercerita tentang perjalanan hidup beliau. Di sini, fokus telaahnya adalah tentang bagaimana prosesi pewahyuan itu terjadi. Studi Sirah analitik juga meniscayakan ketelitian dan kebijaksanaan untuk menimbang ke-sahih-an jalur riwayat (sanad) dan isi redaksi (matan)nya.

Di sini penulis tidak akan mengetengahkan seluruh analisis tentang masalah ini tentunya, karena buku ini hanya sebagai peta. Namun setidaknya, urgensi dari bahasan ini telah penulis informasikan; bahwa alur analisis sirah ini biasanya dimulai dengan penggarnbaran:

1)    Masa sebelum Muhammad diutus; Meliputi penceritaan tentang kondisi sosiologis antropologis (sosialbudaya) Arab jahiliyah, cerita masa kecil Muhammad hingga remajanya, masa berkeluarga (perkawinannya dengan Khadijah) dan terakhir tentang pertapaan (tahannuts)nya di Gua Hira.

2)    Masa pewahyuan; Yaitu penceritaan tentang pengalaman pertama Nabi menerima wahyu (wahyu pertama), runtutan-runtutan wahyu (dalam klasifikasi dua masa; Mekkah dan Madinah), Sistematika tanjim al-Qur’an (gradualisasi penurunan al-Qur’an), dan seterusnya

Pada poin kedua ditekankan pendalaman analitis tentang bagaimana pewahyuan Muhammad berlangsung, serta bagaimana Muhammad mendapatkan kemantapan hati (iqtina’) dengan wahyu yang ia terima untuk pertama kalinya?

Sebagai contoh metodis yang bisa digunakan dalam kajian deskripsi pewahyuan ini, Malik bin Nabi -dalam bukunya adz-Dzahirah al-Qur’aniyah- bisa ditiru ketika menggunakan dua parameter; (1) Fenomena yang terbaca dalam riwayat-riwayat yang menyejarahkan wahyu. Ini adalah untuk membuktikan, bahwa yang dinamakan “wahyu Tuhan” itu benar-benar terjadi, (2) parameter akal, yang akan digunakan untuk mendiskusikan fenomena-fenomena wahyu yang ditemukan dalam analisis di atas secara objektif.

Independensi Wahyu Muhammad

Kajian yang tidak selayaknya terlewa tkan dalam studi wahyu ini adalah juga tentang “independensi wahyu” (istiqlaliyat al-Wahy); bahwa Nabi Muhammad saw (juga Nabi-nabi lainnya) tidaklah memiliki peran atau campur tangan sama sekali dalam al-Qur’an. Rasulullah saw hanya bertugas rnenyampaikan pesan-pesan wahyu itu apa adanya, sehaeaimana diwahyukan.

Wahyu Bukan Kehendak Pribadi Muhammad

Independensi al-Qur’an dari pribadi Muhammad saw bisa didukung -misalnya- dengan beberapa poin analisis di bawah ini;

1)   Wahyu Al-Qur’an turun sewaktu-waktu

2)   Wahyu terputus di saat Rasul menginginkan kehadirannya.

3)   Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang menegur Rasulullah saw, baik dengan teguran ringan maupun teguran yang sangat keras.

4)  Independensi al-Qur’an juga”Bisa dilihat dalam gaya bahasa al-Qur’an, bahwa sefasih-fasih Muhammad dalam bahasa arab.

Deskripsi Muhammad dalam Al-Qur’an

 1)   Muhammad digambarkan dalam Al-Qur’an hanya sebagai hamba yang taat, pembaca bisa merujuk (QS.Thaha: 114, Yunus: 15,16, al-Kahfi 110, al-A’raf: 118).

2)   Muhammad juga digambarkan sebagai seorang yang buta huruf, tidak pernah membaca dan menulis (QS. al-Ankabut; 48)

3)    Muhammad selalu digambarkan sebagai seorang yang jujur.

Tuduhan dan Gugatan Seputar Kewahyuan Muhammad Saw

Berikut beberapa tuduhan yang menganggap Nabi sebagai pseudo propheta (nabi palsu) yang hanya mengakungaku,mendapat wahyu tanpa kebenaran Tuduhan-tuduhan klasik:

1)   Muhammad belajar kepada Waraqah bin Naufal (sepupu Khadijah), seorang penganut ajaran hanafiah (diyakini sebagai agama Nabi Ibrahim)

2)    Muhammad belajar kepada Bukhaira

3)  Di samping tuduhan-tuduhan pembelajaran tersebut di atas, Rasulullah telah dituduh para oposan al-Qur’an (kaum kuffar) sebagai seoarng gila (majnun)

4)    Rasul juga dituduh sebagai penyair. Al-Qur’ah membantahnya (QS. al-Haqqah: 41).

5)    Rasul juga dituduh sebagai tukang tenung, penyihir dan paranormal, namun pemahkah beliau mengucap mantra-mantra? Apa yang beliau ucapkan sarna sekali berbeda dengan mantra-mantra sihir (QS. al-Haqqah:42).

Beberapa tuduhan baru:

Maraknya studi orientalis bisa dianggap sebagai lahirnya gugatan-gugatan baru terhadap al-Qur’ an, yang mencoba menggugurkan validitas status kewahyuannya. Diantara tuduhan-tuduhan itu antara lain:

1)   Inti sari ajaran al-Qur’an terambil dari syi’ir-syiir Jahiliyah.

2)  Inti sari ajaran al-Qur’an terambil dari oplosan budaya Arab setempat, dengan informasi-informasi dari para pedagang Yahudi dan Nasrani di Mekkah waktu itu.

3)  Inti sari ajaran al-Qur’an merupakan “oleh-oleh” selama perjalanan dagang, di musim dingin dan panas (Rihlah Syita’ wa Shalf) ke kota Syam dan Yaman

a)  Inti sari ajaran al-Qur’an terambil dari budaya timur, tepatnya ajaran Zoroaster dan Sabi’ah.

b)  Inti sari ajaran al-Qur’an merupakan gabungan ajaran-jaran Yahudi dan Nasrani.

Beberapa ajaran AI-Qur’ an teradopsi dari ajaran-ajaran bangsa Yunani.



[1]  Ahmad Shams Madyan Lc, MA, Peta Pembelajaran Al-Quran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar 2009


Download:
[hidepost]Deskripsi Pewahyuan Muhammad Saw[/hidepost]


Leave a comment

You must be Logged in to post comment.

Subscribe to our RSS Feed! Follow us on Facebook! Follow us on Twitter! Visit our LinkedIn Profile!