4shared

Menunaikan Amanah V – Inti Ajaran Islam

Menunaikan amanah dengan jujur dan adil adalah merupakan bagian dari inti ajaran islam. Sebagaimana diungkap dalam Alquran surat an-Nisa ayat 58, “Sesungguhnya Allah memberikan nasihat yang terbaik pada kalian dengan memerintahkan jujur dan adil.” Sesungguhnya seluruh umat manusia mendapatkan nasihat yang baik ini yakni melaksanakan kejujuran dan menegakkan keadilan. Adapun indikator nilai kualitas sebuah nasihat dapat dilihat dari beberapa hal diantaranya

1. Kedudukan yang memberi nasihat

Dalam masalah ini, nasihat jujur dan adil disampaikan oleh Allah swt Yang Maha Kaya dan Maha Tahu sehingga segala nasihatnya benar-benar tulus dan bersih dari segala bentuk kepentingan dan keinginan sehingga manfaat dari nasihat tersebut hanyalah diperuntukan bagi kepentingan hamba-hambanya tanpa ada konflik kepentingan dengan dzat keagungan-Nya. Memang secara teoritis tidak mustahil dikalangan manusia pun ada yang memberikan nasihat secara tulus tanpa memiliki kepentingan individu atau golongan, akan tetapi dapat dipastikan bahwa yang bernama manusia bagaimana pun tulusnya tidak bisa terlepas dari berbagai sifat kekuranan terutama berkaitan dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Manusia memiliki keterbatasan sehingga sangat wajar apabila ada manusia yang memberikan nasihat bukan berdasarkan firman Allah Yang Maha Tahu serta berdasarkan hadits yang dimbimbing oleh wahyu Allah swt maka nasihat tersebut dapat dinilai sebagai nasihat terjelek. Karena nasihat yang menyesatkan. Inilah keyakinan final umat islam berkenaan dengan nasihat Allah yang memerintahkan jujur dan adil.

2. Manfaatnya bagi yang menerima nasihat

Kondisi masyarakat jahiliyah sebelum islam datang diemban oleh Rosulullah saw ditengah-tengah umat manusia yang sudah sangat bobrok karena mereka sudah mengabaikan masalah kejujuran dan keadilan sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 41,

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Pada saat itu, dunia sudah hancur luluh tidak ada yang bias diharapkan di barat ataupun di timur, bahkan di timur tengah sekalipun kehidupan manusia sudah kehilangan harapan; minuman keras, perjudian, perzinahan, perbudakan, rentenir bahkan sampai tingkat pembunuhan sudah menjadi warna kehidupan. Sehingga kenyamanan, ketenangan, dan ketentraman sudah sangat sulit didapatkan. Itulah yang dimaksud dengan telah nampak di daratan dan di lautan. Kemudian Rosulullah saw tampil menanamkan akidah yang lurus berkenaan dengan ketuhanan beserta sifat-sifat terpuji-Nya, seperti Penyayang, Pengasih, Penyantun, Pemberi petunjuk dan juga adzab-Nya sangat keras bagi orang-orang yang keras kepala dan arogan. Ternyata dakwah Rosulullah saw ini membawa dampak positif yang luar biasa dalam merubah jiwa dan karakter umat manusia yang sudah ruksak itu. Yang pada awalanya sekalipun mereka mengakui adanya tuhan namun salah dalam memahami dan mempersepsikan tuhannya itu. Mereka meyakini bahwa tuhan itu gaib sehingga yang diketahui tuhan pun hanyalah persoalan-persoalan yang gaib, sementara yang lahiriyah tidak diperhatikan oleh tuhan kemudian mereka menyimpulkan bahwa yang paling penting adalah hati, niat yang baik, sekalipun pekerjaannya tidak berkualitas bahkan cenderung destruktif menjadi faktor kehancuran.

Ini adalah salah satu bentuk kesesatan orang-orang jahiliah pada saat itu yang sudah hancur akidahnya kemudian berdampak buruk kepada sikap dan perilaku kehidupannya. Sementara islam mengajarkan atas adanya perpaduan yang sangat indah dan harmonis antara lahir dan batin, bahkan suasana batin dapat diampuni kesalahannya manakala masih bisa dikendalikan dan masih bisa melahirkan sikap terpuji seperti halnya dalam masalah menetapkan hukum sebagaimana diungkapkan oleh Imam Syafi’i ra, “Hendaklah seorang muslim bersikap adil ada lahiriyahnya, sekalipun mungkin saja di dalam batiniyahnya memiliki hubungan emosional dengan salah satu pihak yang sedang dalam proses hukum disebabkan oleh hubungan keluarga, persahabatan, atau karena memang ia adalah orang yand dapat dipercaya sementara yang lainnya tidak memiliki hubungan sama sekali atau bahkan kesehariannya pun bertingkah laku naïf yang sangat menghilangkan kepercayaan sekalipun demikian seorang hakim hendaknya menampilkan sikap yang adil pada lahiriahnya walaupun dalam batiniyahnya tidak bisa dipaksakan untuk menyamakan perasaan.

Umar bin Khottob ra pernah mengadili perkara Ali bin Abi Tholib dengan seorang yahudi lalu pada saat itu, Umar memanggil Ali bin Abi Thalib dengan gelarnya Abul Hasan sementara orang yahudi dipanggil dengan namanya. Pada saat itu, Ali protes kepada Umar hendaklah engkau bersikap adil kepada kami dan tidak membeda-bedakan. Kemudian Umar pun merubah panggilannya demi memenuhi protes dari seorang sahabat yang dicintainya.

Dapat kita bayangkan betapa indahnya suasana pengadilan pada masa kejayaan Islam manfaat nasihat Allah swt ini sungguh dapat dirasakan secara nyata bukan hanya oleh umat beriman yang benar-benar meyakininya akan tetapi juga oleh non-muslim. Bahkan tidak sedikit orang-orang yang awalnya memusuhi islam namun karena tertarik dengan indahya rahmat Allah swt yang tertuang dalam ajaran islam, akhirnya mereka pun masuk agama yang indah ini.

 (KH.Yassa Syamsuddin,Lc – Ketua Yayasan Da’wah Islam Al-Fatwa Bandung)


Download:

[hidepost]Menunaikan Amanah V[/hidepost]

Show Comments